إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ
فِيْمَا ذَا يُقِيْمُكَ
“Jika
engkau ingin mengetahui kedudukanmu disisi Allah, maka perhatikanlah dimana
Allah telah menempatkan dirimu.”
Hikmah
di atas merupakan sebuah gambaran untuk mengetahui kedudukan kita disisi Allah
swt. Untuk mengetahui kedudukan kita di nanti (akhirat),dapat kita perhatikan
dan kita timbang dimana kita ditempatkan oleh Allah di dunia ini. kedudukan
kita di dunia merupakan sebuah cerminan akan kedudukan kita di sisi Allah swt
kelak di akhirat. Artinya, dengan memperhatikan amal – amal yang kita lakukan
di dunia, merupakan cara mengetahui kedudukan kita di akhirat. Amal
setiap orang berbeda – beda. Tingkatan – tingkatan amal itu pun juga bermacam –
macam.
.
‘Ammah ialah orang yang amalnya dapat dilihat dan diukur dengan
cara memandang amal-amal lahiriahnya ( di dunia ), apakah ternasuk amal taat
ataukah amal maksiat. dengan cara memperhatikan dan mengukur amalnya
ketika di dunia, Orang ‘Ammah dapat mengetahui apakah besok di
akhirat termasuk orang yang celaka dan masuk neraka, ataukah termasuk orang
yang selamat dan masuk surga, Jika amal yang dikerjakan adalah amal ketaatan
maka itu pertanda kelak di akhirat menjadi orang yang selamat dan masuk surga (Min
Ahlis Sa’adah). Begitu juga sebaliknya jika yang dikerjakan di dunia adalah
amal kemaksiatan, maka itu pertanda kelak di akhirat me,jadi orang yangcelaka
dan masuk neraka (Min Ahlis Saqamah).
Amal
taat adalah perbuatan atau amal-amal
yang diridlo’i oleh Allah Swt, dengan menjalankan perintah-perintah Alloh swt.
dan meninggalkan hal-hal yang dilarang yang bisa menjadikan Allah swt
murka dan benci.
Contoh
Menjalankan Amal-amal yang diperintahkan itu seperti : mengaji, sholat
berjama’ah, menghadiri undangan, ta’ziyah ( kita ada waktu dan tidak ada
udzur), menyayangi orang miskin, menyantuni anak yatim, bershodaqoh (baik
dengan ilmu, harta atau kekuatan). sebagaimana sabda Nabi :
قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ كَانَ لَهُ مَالٌ
فَلْيَتَصَدَّقْ من مَالِهِ, وَمَنْ كَانَ لَهُ عِلْمٌ فَلْيَتَصَدَّقْ من
عِلْمِهِ, وَمَنْ كَانَ لَهُ قُوَّةٌ فَلْيَتَصَدَّقْ من قُوَّتِهِ (رواه
ابن مردوية) جامع العلوم والحكم ج : 1 ص : 234
“barang
siapa mempunyai harta maka bershodaqohlah dengan hartanya itu, barang siapa
mempunyai ilmu maka bershodaqohlah dengan ilmunya itu dan barang siapa
mempunyai kekuatan maka bershodaqohlah dengan kekuatannya itu”
.
Termasuk
amal ta’at juga adalah birrul
walidain yaitu mengikuti segala keinginginan dan harapan kedua orang tua
kecuali hal-hal maksiat ( durhaka kepada Alloh swt. ), mendermakan hartanya
kepada orang tua.
Amal
maksiat adalah Amal-amal atau hal-hal yang dibenci
dan dimurkai oleh Allah Swt, dengan meninggalkan hal-hal yang diperintahkan
Alloh swt., misalnya: tidak mau mengaji, tidak mau berjama’ah, tidak mau
ta’ziyah (padahal ada waktu dan tidak adanya udzur), menyakiti orang tua,
menuntut dan membentaknya,dan menerjang larangan-larangan Alloh Swt. misalnya:
minum-minuman keras, judi, bermain gitar (hal-hal yang tidak ada manfaatnya / Tala’ub).
Apabila
manusia melakukan amal ta’at dan terus menerus melakukan sampai mati, maka
manusaia akan mendapatkan Husnul Khotimah atau sebaliknya, manusia
melakukan maksiat (larangan-larangan) sampai mati, maka manusia tersebut akan
menemui kecelakaan Su’ul khotimah. yang lebih berbahaya lagi, adalah,
jika ada orang yang perbuatanya ta’at tetapi menjelang akhir hayatnya dia mati
dengan Su’ul Khotimah, seperti sabda Nabi,saw
فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لِيَعْمَلَ
بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى لاَ يَكُوْنَ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ إِلاَّ
ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ
فَيَدْخُلُ النَّارَ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لِيَعْمَلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ
حَتَّى مَا يَكُنْ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ
الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري في صحيح البخاري)
“ Banyak orang yang amalnya ahli surga,
tapi karena kurang kira-kira sejengkal saja dari hayatnya ia melakukan ma’siat
sehingga ia mati dengan Su’ul khotimah, ada juga orang yang perbuatanya jelek,
tapi kurang dari sejengkal umurnya ia melakukan taat kepada Allah sehingga ia
mati Husnul Khotimah”.
Hadist
yang disampaikan oleh Nabi Saw di atas jarang sekali terjadi dibanding
dengan kebanyakan yang terjadi, oleh karena itu sangat penting sekali kita
untuk selalu berdo’a dan memohon husnul khotimah kepada Alloh Swt:
اَللَّهُمَّ أَتِنْيِ حُسْنَ اْلخَاتِمَةِ
Artinya
: ” Ya Allah berikan aku akhiran yang baik”,
serta
berusaha dan berikhtiyar untuk mendapatkannya dengan sekuat tenaga.
Pada
waktu itu Sayyidina Ali di sisi Rosululloh saw. sayyidina Ali bertanya kepada
beliau “Apakah tidak sebaiknya kita menunggu takdir saja, dari pada kita
nanti melakukan kebaikan tapi akhirnya jelek “, kemudian Rosulloh
bersabda :
إِعْمَلُوْا فَكُلّ ٌمُيَسّرَ ٌلِماَ خُلِقَ لَهُ
Artinya
: ” Beramallah kalian karena setiap sesuatu itu, akan dipermudah untuk apa dia
diciptakan”
Arti
dari إِعْمَلُوْا فَكُلّ ٌمُيَسّر ٌلِماَ
خُلِقَ لَهُ adalah : orang-orang yang ditakdirkan oleh Alloh Swt
sebagai ahli surga, orang-orang tersebut oleh Allah Swt diberi kemudahan dalam
beramal ibadah, sesuai dengan ridlo-Nya dan akhirnya orang-orang tersebut masuk
surga, dan begitu sebaliknya orang-orang yang ditakdirkan oleh Allah Swt
sebagai ahli neraka, dalam kehidupan, mereka lebih berani dan mudah menerjang
larangan-larangan Alloh Swt dan akhirnya masuk neraka. Oleh karena itu
janganlah kita menunggu takdir saja, karena taqdir Alloh Swt tidak ada yang
mengetahui kecuali Alloh Swt sendiri.
AL-KHOSSOH
Orang-orang
yang beribadah kepada Alloh Swt itu terbagi menjadi dua golongan besar yaitu
golongan Muqorrobin (orang-orang yang didekatkan kepada Allah)
dan golongan Abror.
Didalam
Golongan Muqorrobin, terdapat dua derjat ( maqom ) yaitu
: Muhibbin dan ‘Arifin, kebanyakan
ibadahnya Golongan Muqorrobin ini, tidak tampak pada lahirnya, akan
tetapi Golongan Muqorrobin ini selalu munajat ( berdialoq dengan
Alloh Swt ), selalu menghambakan dirinya kepada Allah Swt didalam hatinya,
Golongan
Muqorrobin ini disebut dengan istilah “khosshoh”
Didalam golongan Abror
terdapat satu derajat (maqom) yaitu derajat (maqom) ‘Abidin (
orang yang Ahli dan Giat beribadah). Golongan ini cenderung pada golongan ‘Ammah,
berada jauh di bawah Khossoh ( golongan Muqorrobin ).
golongan
Abror banyak menampilkan ibadah lahiriyah, dan niatnya memang sudah ikhlas
karena Allah Swt, akan tetapi dorongan amal ibadahnya masih bersifat pribadi.
Misalnya : ingin selamat dari neraka, masuk surga, mendapatkan bidadari,
keniatannya ini belum seratus persen penuh karena Allah Swt.
Golongan
Abror ini dapat meningkatkan derajatnya, sampai taraf (derajat) yang
bena-benar Mukhlisin melalui jenjang latihan-latihan, misalnya : dalam
praktik dzikir Saat lisanya melafadkan kalimat thoyyibah لآ إله إلا الله di
dalam hatinya menyatakan لاَمَعْبُوْدَ
إِلاَّالله, yang berarti
di dalam kalimat-kalimat thoyyibah itu baru berisi tentang peniadaan
sesuatu yang disembah kecuali Allah Swt, seperti ; bulan, bintang, patung, api
dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu adalah makhluk yang dipertuhankan
bukan Tuhan yang sebenarnya.
Kemudian
meningkat lagi dengan mengganti “Bunyi Hati” yang sebelumnya berbunyiلاَمَعْبُوْدَ إِلاَّالله menjadi لاَ مَقْصُوْدَ إِلاَّاللهُ Dalam kondisi ini kadang seorang Abror belum sepenuhnya
murni karena Allah Swt, karena motivasi dan dorongan jiwa amalnya, masih
didominasi oleh kepentingan pribadinya di akhirat, (seperti yang telah
disebutkan di atas) belum sampai pada Allah semata, sehingga seorang Abror
tersebut belum dianggap sebagai Kholison Mukhlison ( ikhlasnya
belum sempurna ), dan hal semacam ini sudah diterima oleh Allah Swt. . Pada
kondisi ini sering terjadi kesalahan yang fatal, dimana seorang abror yang
Abidin dalam amal ibadahnya, banyak dipengaruhi oleh dorongan duniawi, serta
masih bertujuan demi kepentingan pribadinya, tampak secara lahir dia ibadah,
akan tetapi dihatinya hanya ada masalah duniawi, golongan inilah yang dalam
Tasawuf disebut Halikin (orang yang rusak ibadahnya karena tujuannya
masih melenceng) atau disebut juga dengan Ghofilin (orang yang lupa;
akan tujuannya yaitu Allah Swt). Maka lanjutkan dan isilah dzikir
لآ إله إلا اللهdengan
لاَ مَقْصُوْدَ إِلاَّاللهُ yang
benar-benar murni demi Allah Swt dan karena Allah Swt semata, dengan demikian seorang
Abror meningkat dan berada pada maqom Mukhlisin (orang yang
membersihkan ibadahnya dari hal- hal yang bersifat duniawi).
Selanjutnya
seorang Abror yang sudah berhasil mencapai tingkat Mukhlishin, dapat meningkat
ke-maqom Muqorrobin: yang didalamnya ada dua tingkatan: Muhibbin
dan ‘Arifin), dengan terlebih dahulu melalui tahap Mukasyafah:
tersingkapnya tabir gaib).
Dalam
perjalanan tersebut diatas ini, seperti yang pernah dialami oleh syaikh
Makinuddin dan ki Ageng Tarub yang bernama asli : Sayyid
Ibrahim Bin Maulana Malik Ibrahim beliau diuji dan diperlihatkan oleh
Alloh pada Alam Jabarut.
Didalam
alam jabarut terdapat dua alam yaitu Alam Barzah dan Alam Malakut, yang disebut
Alam barzah yaitu Alam dimana penghuninya dapat melihat alam gaib
sekaligus alam musyahadah / dunia)
dan yang disebut Alam Malakut Alam yang yang dihuni oleh para
malaikat, bidadari, taman-taman indah, nikmat-nikmat surga yang akan diberikan,
termasuk juga arwah manusia.( jasadnya terdiri dari unsur alam musyahadah dan
alam ghoib ). Alam malakut juga tidak dapat dibuktikan dengan indera, seperti
halnya “rasa”. Rasa juga tidak dapat dicium oleh indera pencium.
Sedangkan
bagi kalangan kita orang ‘Ammah mungkin pada saat berdzikir pernah
mengalami dan “ditemui” seperti: anjing, dan ditemui orang-orang mulya seperti
Kyai,Sunan/ Wali dan seterusnya. Pada kondisi seperti ini, apapun yang kita
alami dan kita jumpai,kita harus syukur dengan cara tidak menceritakan
pengalaman itu kepada orang lain, Firman Allah dalam Al Qur’an :
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَ نَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ
إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْد (سورة إبراهم : 7)
Artinya
: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku),
maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”
Dan
jangan kita hiraukan hal tersebut karena barangkali semua itu hanyalah tipuan
syetan belaka. Apalagi kita sampai larut kedalam lamunan, mengingat-ingat
kembali tentang apa-apa yang sudah kita jumpai didalam dzikir.
sehingga kita menjadi lupa dan menghentikan bacaan atau dzikir. Pada saat
kondisi seperti ini, bermacam-macam ujian akan terus bermunculan, maka kita
harus memalingkan hati kita dari semua yang bersifat Aghyar (selain
Allah), dan menghadapkan hati dengan Dzikir La Mahbuba illallah: (tidak
ada yang kucintai kecuali Allah) untuk terus meningkat dan mencapai pintu
maqom Muhibbin.
Dicontohkan
pengalaman As Syaih Abu Yazid Al Bushtomi: pada saat Beliau
sholat, Beliau diperlihatkan oleh Alloh Swt dengan Alam malakut bumi
tingkat pertama, ke-dua, ke- tiga sampai tingkt ke-tuju, setelah itu Beliau
diperlihatkan Alam malakut langit tingkat pertama, ke-dua,
ke-tiga sampai tinngkat ke-tuju, sampai akhirnya Beliau diperlihatkan bawah ‘Arsy,
setelah itu Beliau dipanggil oleh Alloh Swt. Dan Beliau ditanya oleh Alloh
Swt Bagaimana ? apa engkau suka ? Apakah engkau ingin yang lebih
menakjubkan lagi ?, Beliau menjawab : Aku tidak ingin apapun, lalu Alloh
bertanya : lalu apa yang engkau inginkan ? Beliau menjawab : aku hanya ingin
satu yaitu engkau yaa Alloh.
Dari
contoh diatas, menjadi jelas bagi kita betapa besar godaan seorang Muhibbin
dan untuk tidak terkecoh oleh goda’an-goda’an aghyar ( selain Alloh ).
hanya tertuju pada satu titik yaitu Alloh Swt yang selalu dicintai.
Inilah
usahanya seorang abror dalam mencapai tingkat / derajat Muqorrobin,
dan masih ada satu tingkat lagi yang lebih tinngi yaitu ‘Arifin (
orang yang ma’rifat kepada Alloh ).
Dalam
perjalanan dari tingkat Muhibbin menuju tingkat ‘Arifin
terdapat dua kondisi dimana sorang ‘Arif pada saat melihat Alloh ( dengaan mata
hati )
Adakalanya
dia fana’ yaitu makhluk telah sirna, apapun tidak tampak
dari pandangannya bahkan dirinya sendiripun menjadi sirna, yang tampak hanyalah
Alloh Swt saja.
Adakalanya
dia netral atau baqo’ artinya pada saat yang sama dia memandang makhluk dan dia
juga dapat melihat Alloh Swt.
KESIMPULAN
:
Seperti
yang telah disebutkan dalam kata Hikmah, “Jika engkau ingin mengetahui
kedudukanmu disisi Allah, Maka perhatikanlah dimana Allah telah menempatkan dirimu”
itu artinya Barang siapa yang ingin mengetahui seberapa agung derajatnya
dihadapan Allah; apakah termasuk Golongan Khossoh ataukah ‘Ammah,
Maka hendaknya amal-amalnya diperhatikan seberapa angung kedudukan Allah
dihatinya.
Jika
kualitas amal ibadah kita seperti : sholat, haji, shodaqoh dan yang lainnya itu
sudah murni hanya karena Allah Swt semata, dan dalam melafalkan لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ itu sudah ikhlas dan demi mengagungkan
Allah Swt, maka itu berarti kedudukan Allah Swt adalah agung dihati, dengan
demikian, kita sudah termasuk golongan Muqorrobin. Atau jika amal kita
masih dipengaruhi dan didominasi oleh kepentingan duniawi, kelak diakhirat,
maka hal itu menandakan bahwa kedudukan kita, masih rendah dibawah derajat muqorrobin
yakni golongan Abror.
Namun
yang lebih celaka lagi adalah apabila hati kita tidak mempercayainya yakni
kosong dari kedudukan Allah Swt yang secara lahir perintah-perintah Allah tidak
dianggap (reken: Jawa) Maka sadarilah kita ada dalam golongan ‘Ammah.
Sehubungan
dengan hal tersebut dalam sebuah Hadits Nabi Saw bersabdah:
مَنْ قَالَ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ وَمَدَّهَا بِالتَّعْظِيْمِ غَفَرَ اللهُ لَهُ أَرْبَعَةَ
آلآفِ ذَنْبٍ مِنَ الْكَبَائِرِ
Artinya
: Barang siapa membaca لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan
ikhlas dalam hati dan memanjangkannya karena (demi) mengagugkan Allah, Maka
Allah akan mengampuninya empat ribu dosa-dosa besar.
Yang
dimaksud dengan “membaca” bukanlah hanya asal membaca saja, akan tetpi
membaca dengan penuh keikhlasan dan keinsafan dalam hati, bukan hanya sekedar
membaca secara lisan dan lupa kepada Allah dan hatinya kosong dari penafian
sesembahan selain Allah atau إِلاَّاللهُ لاَ مَعْبُوْدَ , إِلاَّ اللهُ لاََمَقْصُوْدَ, dan مَحْبُوْبَ
إِلاَّاللهُ لاَ, contohnya apabila kita diundang oleh seseorang untuk tahlilan,
dalam membaca tahlil, hati dan fikiran kita selalu teringat akan makanan apa
yang akan dihidangkan ( berkat ) oleh si pengundang, maka itu berarti
menganggap sama antara kedudukan Allah Swt dengan hidangan ( berkat ),
dan berarti kedudukan berkat itu lebih tinggi dan mahal dari pada Allah Swt,
karena sesuatau yang banyak diingat maka itulah yang dicintai dan dihormati.
Contoh lagi, dalam kehidupan sehari-hari misalnya, saat kita melihat rumah yang
indah, kemudian di persimpangan jalan kita merasa tertarik, ketika kita melihat
kendaraan yang bagus, pada kesempatan yang lain kita melihat wanita yang begitu
cantik, bagaimana perasan kita, manakah dari ketiganya yang paling kita kagumi
? Disaat kita terdiam menentukan pilihan, menerawang penuh kekaguman, maka
pilihan itulah yang kita cintai dan agungkan. Seperti itulah gambaran
dzikir, disaat mebaca لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, Apa yang terlintas dalam benak kita,
Allah atau berkat-nya ?, jika yang terjadi demikian maka hal itu
menunjukkan derajat kita masih rendah.
Berkenaan
yang hal diatas, didalam syarakh kitab Al- Hikam disebutkan bahwa Fudhoil
bin ‘iyadl RA. berkata:
إِنَّمَا يُطِيْعُ الْعَبْدُ رَبَّهُ
عَلَى قَدْْرَةِ مَنْزِلَتِهِ مِنْهُ
Artinya:
Sesungguhnya seorang hamba dapat melakuakan
ketaatan
ibadah kepada Allah itu dilihat menurut
kedudukannya
di sisi Allah.
Maksud
“kedudukannya disisi Allah” disini dapat dipahami dengan dua pengertian, Pertama:
ketaatan itu ditentukan oleh kedudukan masing-masing hamba itu sendiri,
artinya, jika kedudukan seorang hamba itu agung, maka ketaaatan dalam
beribadahnya akan baik. Kedua: ditentukan oleh iman atau rasa percaya
seorang hamba tersebut kepeda Allah tentang apa-apa yang telah disebutkan
didalam Al-Qur’an maupun al-Hadits, seperti percaya dengan sepenuh hatinya
bahwa siksa neraka itu sangat berat, surga itu indah, tempatnya kenikmatan dan
percaya bahwa akhirat itu benar-benar akan dijalani dan dialami manusia,
sehingga menumbuhkan rasa keimanan serta dapat mendorong dirinya untuk giat
melakukan ibadah.
Sebaliknya
jika ada seorang hamba yang tipis keimanannya, menganggap bahwa semua itu
hanyalah bohong dan omong kosong belaka, maka Hal itu dikarenakan tidak ada
sesuatu yang mendorongnya untuk giat beribadah, itu semua dapat dilihat,
bagaimana ibadahnya hamba yang begitu lemah dan malas.
Dalam
kesempatan lain Wahab bin Munabbah
berkata : Aku pernah membaca kitab-kitab Allah Swt yang terdahulu,
disana terdapat Firman Allah :
Artinya
: “Wahai anak Adam, ta’atilah perintah-Ku dan janganlah engkau memberitahu Aku,
tentang apa-apa yang menjadi kebutuhanmu, dan jangan pula engkau ajari Aku
tentang apa-apa yang terbaik bagimu, Sesungguhnya Aku mengetahui kepentingaa
hamba-Ku_ Aku memulyakan orang yang patuh pada perintah-Ku dan menghina orang
meremehkan perintah-Ku.Aku tidak akan pernah menghiraukan hak/kepentingan
hamba-Ku sebelum dia mau memperhatikan hak-hak-Ku”.
