Bisakah Manusia Mengubah Takdir
Takdir itu adalah ketentuan Allah. Dan ketentuan itu tidak akan mengalami
perubahan ataupun kalaupun berubah, maka manusia “ditakdirkan” untuk tidak
mampu mengamati perubahan dari takdir itu sendiri.
Allah berfirman :
QS 48. Al Fath 23. Sebagai
suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan
menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.
Firman ini menegaskan bahwa kita
tidak akan dapat menemukan perubahan (melalui pengamatan) bahwa takdir
mengalami perubahan. Jadi apa saja yang kita akan jalani dalam kehidupan,
termasuk mimpi-mimpi sekalipun berada dalam arena yang telah ditetapkan.
Kemanapun kita melakukan pilihan melangkah, termasuk menghindari terantuk
dari batu, atau memilih makanan pedas atau asin, semua adalah pilihan dari
takdir. Jadi kemanapun kita berjalan, kita akan memenuhi takdir kita !.
Jadi, bisakah manusia mengubah
takdir?.
Pertanyaan yang aneh ?
Disini kita menangkap dua pengertian
terhadap takdir dalam masyarakat :
Pertama : Takdir sebagai suatu
ketentuan yang tidak mengalami perubahan dan telah berlaku sejak dahulu,
seperti disampaikan ayat di atas. Dalam pemahaman ini, tentunya bekerja
aksi-reaksi, hukum-hukum alam atau hukum fisika yang diberlakukan sejak
penciptaan pertama terhadap hukum-hukum alam semesta.
Kedua : Takdir sebagai
prosesi kejadian – Yang terjadi pada manusia. Ketika manusia berada pada
posisi beruntung, entah mendapat jodoh atau diterima untuk bekerja, maka yang
bersangkutan mencapai suatu posisi dari pilihan takdirnya.
Kembali ke pertanyaan awal : Dapatkah
manusia mengubah takdir?.
Pertanyaan ini sulit juga ya
dijawabnya. Kok ditanya lagi !, bukankah kita “tidak akan” mampu melihat
perubahan takdir. Tapi, jelas pula bahwa Allah juga tidak menyebutkan
bahwa takdir itu tidak akan berubah, takdir bisa berubah, namun manusia tidak
mampu menemukan perubahannya. Kalau begitu, bagaimana manusia tahu bahwa
telah terjadi perubahan takdir !.
Bisakah mengubah takdir?
Banyak orang malas yang menjadikan takdir sebagai dalih atas kemalasannya.
Padahal, takdir itu bisa diubah. ‘Memang, tidak semua takdir bisa
diubah’. Misalnya, jika kita ditakdirkan sebagai seorang laki-laki, tidak
bisa diubah menjadi seorang perempuan ( walaupun ada yang merubah dari
laki-laki jadi perempuan ini bukan merubah takdir tapi mendustai takdir).
Lalu bagaimana cara kita
mengubah takdir?
Cara yang benar dan tepat, tentu
saja harus bersumber dari Pembuat takdir yang tiada lain Allah SWT
melalui Al Quran dan Hadits Nabi saw.
Bagi Anda yang belum tahu,
bahwa takdir bisa diubah, silahkan simak hadist berikut:
Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim,
diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda :
“Barangsiapa hatinya terbuka untuk
berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan
yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta
keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan
yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka
berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR
Turmudzi dan Hakim)
Cara
Mengubah Takdir
Yang pertama Yaitu dengan berdo’a. Dalilnya ialah hadits diatas.
Yang kedua Yaitu Bersedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda :“Silaturrahmi dapat
memperpanjang umur dan sedekah dapat merubah taqdir yang mubram” (HR.
Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad).
Yang ketiga yaitu Bertasbih. Ada hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi
Waqosh, Rasulullah bersabda : “Maukah kalian Aku beritahu sesuatu do’a,
yang jika kalian memanfa’atkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka
Allah akan menghilangkan kesedihan itu? Para sahabat menjawab : “Ya,
wahai Rasululullah, Rasul bersabda “Yaitu do’a “Dzun-Nun : “LA
ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADH-DHOLIMIN” (Tidak ada
Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara
orang-orang yang dholim”). (H.R. Imam Ahmad, At-Turmudzi dan Al-Hakim).
Yang keempat yaitu Bershalawat ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay Ibnu
Ka’ab, bahwa ada seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala
sholawatnya untuk Rasulullah SAW, maka Rasul berkata kepada orang tersebut : “Jika
begitu lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni” (H.R Imam
Ahmad At-Tabroni)
“Tidak ada yang mengubah takdir
kecuali do’a”
Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu
’alaih wa sallam menjelaskan bahwa taqdir yang Allah ta’aala telah tentukan
bisa berubah. Dan faktor yang dapat mengubah takdir ialah doa seseorang.
Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam:
“Tidak ada yang dapat menolak taqdir
(ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah
(memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)
Subhanallah…! Betapa luar biasa
kedudukan do’a dalam ajaran Islam. Dengan do’a seseorang bisa berharap bahwa
taqdir yang Allah ta’aala tentukan atas dirinya berubah. Hal ini merupakan
sebuah berita gembira bagi siapapun yang selama ini merasa hidupnya hanya
diwarnai penderitaan dari waktu ke waktu. Ia akan menjadi orang yang optimis.
Sebab keadaan hidupnya yang selama ini dirasakan hanya berisi kesengsaraan
dapat berakhir dan berubah. Asal ia tidak berputus asa dari rahmat Allah
ta’aala dan ia mau bersungguh-sungguh meminta dengan do’a yang tulus kepada
Allah ta’aala Yang Maha Berkuasa.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku
yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah ta’aala mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah
kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab
kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”
(QS Az-Zumar 53-54)
Demikianlah, hanya orang yang tetap
berharap kepada Allah ta’aala saja yang dapat bertahan menjalani kehidupan di
dunia betapapun pahitnya taqdir yang ia jalani. Ia akan senantiasa menanamkan
dalam dirinya bahwa jika ia memohon kepada Allah ta’aala dalam keadaan apapun,
maka derita dan kesulitan yang ia hadapi sangat mungkin berakhir dan bahkan
berubah.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah
kenal Allah ta’aala dengan sendirinya akan meninggalkan kebiasaan berdo’a dan
memohon kepada Allah ta’aala. Ia akan terjatuh pada salah satu dari dua bentuk
ekstrimitas. Pertama, ia akan mudah berputus asa. Atau kedua, ia akan lari
kepada fihak lain untuk menjadi sandarannya demi merubah keadaan. Padahal
begitu ia bersandar kepada sesuatu selain Allah ta’aala –termasuk bersandar
kepada dirinya sendiri- maka pada saat itu pulalah Allah ta’aala akan mengabaikan
orang itu dan membiarkannya berjalan mengikuti situasi dan kondisi yang
tersedia. Sedangkan orang tersebut dinilai sebagai seorang yang mempersekutukan
Allah ta’aala dengan yang lain. Berarti orang tersebut telah jatuh ke dalam
kategori seorang musyrik…!
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan
hina dina.”
(QS Al-Mu’min 60)
Dan yang tidak kalah pentingnya
bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya,
karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke
dalam siksa Allah ta’aala yang pedih. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa
sallam bersabda:
“Barangsiapa tidak berdo’a kepada
Allah ta’aala, maka Allah ta’aala murka kepadaNya.” (HR Ahmad 9342)
Saudaraku, janganlah berputus asa
dari rahmat Allah ta’aala. Bila Anda merasa taqdir yang Allah ta’aala tentukan
bagi hidup Anda tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan
berdo’alah kepada Allah ta’aala. Allah ta’aala Maha Mendengar dan Maha Berkuasa
untuk mengubah taqdir Anda. Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan
sebagai bentuk harapan agar Allah ta’aala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:
“Ya Allah, perbaikilah agamaku
untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di
dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya
terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam
setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala
keburukan.” (HR Muslim 4897)
Iman Kepada Takdir Baik dan Buruk
Banyak orang mengenal rukun iman
tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung alam keenam rukun iman
tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang
mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir
dan bagaimana mengimani takdir. Berikut sedikit ulasan mengenai iman kepada
takdir Allah yang baik dan yang buruk.
Takdir (qadar) adalah perkara yang
telah diketahui dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah
dituliskan oleh al-qalam (pena) dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga
akhir zaman. (Terj. Al Wajiiz fii ‘Aqidatis
Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 95)
Allah telah menentukan segala
perkara untuk makhluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu (azali) dan
ditentukan oleh hikmah-Nya. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan atas
kehendak-Nya dan tidak ada sesuatupun yang keluar dari kehendak-Nya. Maka,
semua yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba adalah berasal dari ilmu,
kekuasaan dan kehendak Allah, namun tidak terlepas dari kehendak dan usaha
hamba-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
ุฅูุง
ูู ุดูุก ุฎูููู ุจูุฏุฑ
“Sesungguhnya Kami menciptakan
segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs.
Al-Qamar: 49)
ูุฎูู
ููู ุดูุก ููุฏุฑู, ุชูุฏูุฑุง
“Dan Dia telah menciptakan segala
sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al-Furqan: 2)
ูุฅู
ู
ู ุดูุก ุฅูุง ุนูุฏู ุจู
ูุฏุงุฑ
“Dan tidak ada sesuatupun melainkan
pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan
ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr: 21)
Mengimani takdir baik dan takdir
buruk, merupakan salah satu rukun iman dan prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal
Jama’ah. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada
takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa
segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ูุง
ูุคู
ู ุนุจุฏ ุญุชู ูุคู
ู ุจุงููุฏุฑ ุฎุจุฑู ูุดุฑู ุญุชู ุจุนูู
ุฃู ู
ุง ุฃุตุงุจู ูู
ููู ููุฎุทุฆู ูุฃู ู
ุง
ุฃุฎุทุฃู ูู
ููู ููุตูุจู
“Tidak beriman salah seorang dari
kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga
yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput
darinya tidak akan menimpanya.”(Shahih,
riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu
‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah
bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’
Jibril ‘alaihis salam pernah
bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai
iman, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
ุงูุฅูู
ุงู
ุฃู ุชุค ู
ู ุจุง ููู ูู
ูุง ุฆูุชู ููุชุจู ูุฑุณูู ูุงูููู
ุงูุง ุฎุฑ ูุชุค ู
ู ุจุงููุฏุฑุฎูุฑู ูุดุฑู
“Engkau beriman kepada Allah,
Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta
qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.”
(Shahih,
riwayat Muslim dalam Shahih-nya di kitab al-Iman wal Islam wal Ihsan
(VIII/1, IX/5)).
Dan Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar
radhiyallahu ‘anhuma juga pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ูู
ุดูุก ุจูุฏุฑ ุญุชู ุงูุนุฌุฒ ูุงูููุณุฒ
“Segala sesuatu telah ditakdirkan,
sampai-sampai kelemahan dan kepintaran.”
(Shahih,
riwayat Muslim dalam Shahih-nya (IV/2045), Tirmidzi dalam Sunan-nya
(IV/452), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/32), dan al-Hakim dalam al-Mustadrak
(I/23)
Tingkatan
Takdir
Beriman kepada takdir tidak akan
sempurna kecuali dengan empat perkara yang disebut tingkatan takdir atau
rukun-rukun takdir. Keempat perkara ini adalah pengantar untuk memahami masalah
takdir. Barang siapa yang mengaku beriman kepada takdir, maka dia harus
merealisasikan semua rukun-rukunnya, karena yang sebagian akan bertalian dengan
sebagian yang lain. Barang siapa yang mengakui semuanya, baik dengan lisan,
keyakinan dan amal perbuatan, maka keimanannya kepada takdir telah sempurna.
Namun, barang siapa yang mengurangi salah satunya atau lebih, maka keimanannya
kepada takdir telah rusak.
Tingkatan Pertama: al-’Ilmu (Ilmu)
Yaitu, beriman bahwa Allah
mengetahui dengan ilmu-Nya yang azali mengenai apa-apa yang telah terjadi, yang
akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, baik secara global maupun terperinci,
di seluruh penjuru langit dan bumi serta di antara keduanya. Allah Maha
Mengetahui semua yang diperbuat makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan,
mengetahui rizki, ajal, amal, gerak, dan diam mereka, serta mengetahui siapa di
antara mereka yang sengsara dan bahagia.
Allah Ta’ala telah berfirman,
ุฃูู
ุชุนูู
ุฃู ุงููู ูุนูู
ู
ุง ูู ุงูุณูู
ุงุก ูุงูุฃุฑุถ ุۗฅู ุฐูู ูู ูุชูุจ ุۚฅู ุฐูู ุนูู ุงููู ูุณุฑ
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?
Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).
Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Qs. Al-Hajj: 70)
ูุนูุฏู,
ู
ูุงุชุญ ุงูุบูุจ ูุง ูุนูู
ูุง ุฅูุง ูู ۚ ููุนูู
ู
ุง ูู ุงูุจุฑ ูุงูุจุญุฑ ููۚ
ุง ุชุณููุท ู
ู ูุฑูุฉ ุฅูุง
ูุนูู
ูุง ููุง ุญุจุฉ ูู ุธูู
ุช ุงูุฃุฑุถ ููุง ุฑุทุจ ููุง ูุง ุจุณ ุฅูุง ูู ูุชุจ ู
ุจูู
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci
semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan
Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada
sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh
sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau
yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al-An’aam: 59)
ุฅู
ุงููู ุจูู ุดูุก ุนููู
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
atas segala sesuatu.” (Qs. At-Taubah: 115)
Tingkatan Kedua: al-Kitaabah
(Penulisan)
Yaitu, mengimani bahwa Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah menuliskan apa yang telah diketahui-Nya berupa
ketentuan-ketentuan seluruh makhluk hidup di dalam al-Lauhul
Mahfuzh. Suatu kitab yang tidak meninggalkan sedikit pun di dalamnya,
semua yang terjadi, apa yang akan terjadi, dan segala yang telah terjadi hingga
hari Kiamat, ditulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitab.
Allah Ta’ala berfirman,
ู
ูู ุดูุก ุฃุญุตููู ูู ุฅู
ุงู
ู
ุจููู
“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan
dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs.
Yaasiin: 12)
ู
ุง
ุฃุตุงุจ ู
ู ู
ุตูุจุฉ ูู ุงูุฃุฑุถ ููุง ูู ุฃููุณูู
ุฅูุง ูู ููุชุจ ู
ู ูุจู ุฃู ูุจุฑุฃูุงุۚۚฅู ุฐูู ุนูู
ุงููู ูุณุฑ
“Tidak ada suatu bencana pun yang
menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis
dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Qs. Al-Hadiid: 22)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
ูุชุจ
ุงููู ู
ูุงุฏูุฑ ุงูุฎูุง ุฆู ูุจู ุฃู ูุฎูู ุงูุณู
ุงูุงุช ุฒุงูุฃุฑุถ ุจุฎู
ุณุจู ุฃูู ุณูุฉ
“Allah telah menulis seluruh takdir
seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit
dan bumi.”
(Shahih,
riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh
Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557)
Dalam sabdanya yang lain,
ุฅู
ุฃูู ู
ุง ุญูู ุงููู ุงูููู
, ูู ูู: ุฃูุชุจ! ูู: ุฑุจ ูู
ุงุฐุง ุฃูุชุจ؟ ูู: ุฃูุชุจ ู
ูุงุฏูุฑ ูู ุดูุก
ุญุชู ุชููู
ุงูุณุงุนุฉ
“Yang pertama kali Allah ciptakan
adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai
Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala
sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’(Shahih,
riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no.
2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam asy-Syari’ah
(no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu
‘anhu).
Oleh karena itu, apa yang telah
ditakdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang
ditakdirkan tidak akan mengenainya, maka tidak akan mengenainya, sekalipun
seluruh manusia dan golongan jin mencoba mencelakainya.
Tingkatan Ketiga: al-Iraadah dan Al
Masyii-ah (Keinginan dan Kehendak)
Yaitu, bahwa segala sesuatu yang
terjadi di langit dan di bumi adalah sesuai dengan keinginan dan kehendak
(iraadah dan masyii-ah) Allah yang berputar di antara rahmat dan
hikmah. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dengan
rahmat-Nya, dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dengan hikmah-Nya. Dia
tidak boleh ditanya mengenai apa yang diperbuat-Nya karena kesempurnaan hikmah
dan kekuasaan-Nya, tetapi kita, sebagai makhluk-Nya yang akan ditanya tentang
apa yang terjadi pada kita, sesuai dengan firman-Nya,
ูุงูุณุฆู
ุนู
ุง ููุนู ููู
ูุณุฆููู
“Dia tidak ditanya tentang apa yang
diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (Qs. Al-Anbiyaa’: 23)
Kehendak Allah itu pasti terlaksana,
juga kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki
pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa
yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk
berupaya untuk mewujudkannya.
Allah Ta’ala berfirman,
ูู
ู
ูุฑุฏุงููู ุฃู ููุฏูู ูุดุฑุญ ุตุฏุฑู ููุฅุณูุงู
ููۚ
ู ูุฑุฏ ุฃู ูุถูู ูุฌุนู ุตุฏุฑู ุถููุงุญุฑุฌุง
“Barang siapa yang Allah menghendaki
akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk
(memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya,
niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Qs. Al-An’aam: 125)
َูู
َุง
ุชَุดَุงุคَُูู ุฅَِّูุง ุฃَู َูุดَุงุกَ ุงَُّููู ุฑَุจُّ ุงْูุนَุงَูู
َِูู
“Dan kamu tidak dapat menhendaki
(menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (Qs. At-Takwir: 29)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
juga bersabda,
ุฅู
ูููุจ ุจูู ุฃุฏู
ูููุง ุจูู ุฅุตุจุนููู ู
ู ุฃุตุง ุจุน ุงูุฑุญู
ู, ููููุจ ูุง ุญุฏ, ูุตุฑูู ุญูุซ ูุดุงุก
“Sesungguhnya hati-hati manusia
seluruhnya di antara dua jari dari jari jemari Ar-Rahmaan seperti satu hati;
Dia memalingkannya kemana saja yang dikehendaki-Nya.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam
Shahih-nya (no. 2654). Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 1689).
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,
“Para Imam Salaf dari kalangan umat Islam telah ijma’ (sepakat) bahwa wajib
beriman kepada qadha’ dan qadar Allah yang baik maupun yang buruk, yang manis
maupun yang pahit, yang sedikit maupun yang banyak. Tidak ada sesuatu pun
terjadi kecuali atas kehendak Allah dan tidak terwujud segala kebaikan dan
keburukan kecuali atas kehendak-Nya. Dia menciptakan siapa saja dalam keadaan
sejahtera (baca: menjadi penghuni surga) dan ini merupakan anugrah yang Allah
berikan kepadanya dan menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki dalam keadaan
sengsara (baca: menjadi penghuni neraka). Ini merupakan keadilan dari-Nya serta
hak absolut-Nya dan ini merupakan ilmu yang disembunyikan-Nya dari seluruh
makhluk-Nya.” (al-Iqtishaad fil I’tiqaad, hal. 15)
Tingkatan Keempat: al-Khalq
(Penciptaan)
Yaitu, bahwa Allah adalah Pencipta
(Khaliq) segala sesuatu yang tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada rabb
selain-Nya, dan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Sebagaimana
firman Allah Ta’ala,
ุงููู
ุฎููู ูู ุดูุก ูููۖ ุนูู ูู ุดูุก ูููู
“Allah menciptakan segala sesuatu
dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Qs.
Az-Zumar: 62)
Meskipun Allah telah menentukan
takdir atas seluruh hamba-Nya, bukan berarti bahwa hamba-Nya dibolehkan untuk
meninggalkan usaha. Karena Allah telah memberikan qudrah (kemampuan) dan
masyii-ah (keinginan) kepada hamba-hamba-Nya untuk mengusahakan takdirnya.
Allah juga memberikan akal kepada manusia, sebagai tanda kesempurnaan manusia
dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain, agar manusia dapat membedakan antara
kebaikan dan keburukan. Allah tidak menghisab hamba-Nya kecuali terhadap
perbuatan-perbuatan yang dilakukannya dengan kehendak dan usahanya sendiri.
Manusialah yang benar-benar melakukan suatu amal perbuatan, yang baik dan yang
buruk tanpa paksaan, sedangkan Allah-lah yang menciptakan perbuatan tersebut.
Hal ini berdasarkan firman-Nya,
ูุงููู
ุญูููู
ูู
ุง ุชุนู
ููู
“Padahal Allah-lah yang
menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Qs. Ash-Shaaffaat: 96)
Dan Allah Ta’ala juga berfirman,
yang artinya,
ูุง
ูููู ุงููู ููุณุง ุฅูุง ูุณุนูุง
“Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kemampuannya.”(Qs.
Al-Baqarah: 286)
Hikmah Beriman Kepada Takdir
Beriman kepada takdir akan
mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang mendalam, yaitu
bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan. Sesuatu tidak akan menimpa
kita kecuali telah Allah tentukan kejadiannya, demikian pula sebaliknya.
Apabila kita telah faham dengan hikmah penciptaan ini, maka kita akan
mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu yang datang dalam
kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan Allah atas diri kita. Sehingga
ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup kita, kita akan lebih bijak
dalam memandang dan menyikapinya. Demikian pula ketika kita mendapat giliran
memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa untuk mensyukuri nikmat Allah yang
tiada henti.
Manusia memiliki keinginan dan kehendak,
tetapi keinginan dan kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabbnya.
Golongan Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini bahwa segala yang telah
ditentukan, ditetapkan dan diperbuat oleh Allah memiliki hikmah dan segala
usaha yang dilakukan manusia akan membawa hasil atas kehendak Allah.
Ingatlah saudariku, tidak setiap hal
akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka hendaklah kita
menyerahkan semuanya dan beriman kepada apa yang telah Allah tentukan. Jangan
sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit ’sentilan’, sehingga
muncullah bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan mengurangi nikmat iman
kita.
Dengarlah sabda Nabi kita
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ุฅุญุฑุต
ุนูู ู
ุง ูููุนู, ูุงุณุชุนู ุจุงููู ููุง ุชุนุฌุฒ, ูุฅู ุฃุตุง ุจู ุดูุก ููุง ุชูู: ูู ุฃูู ูุนูุช ูุฐุง
ููุฐุง ููู ูุฐุง ููุฐุง, ูููู ูู: ูุฏุฑ ุงููู ูู
ุง ุดุงุก ูุนู, ูุฅู (ูู)
ุชูุชุญ ุนู
ู
ุงูุดูุทุงู
“Berusahalah untuk mendapatkan apa
yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai
kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata
’seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan
tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan
segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena
sesungguhnya (kata) ’seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan.”
(Shahih,
riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664).
Tidak ada seorang pun yang dapat
bertindak untuk merubah apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Maka tidak ada
seorang pun juga yang dapat mengurangi sesuatu dari ketentuan-Nya, juga tidak
bisa menambahnya, untuk selamanya. Ini adalah perkara yang telah ditetapkan-Nya
dan telah selesai penentuannya. Pena telah terangkat dan lembaran telah kering.
Berdalih dengan takdir diperbolehkan
ketika mendapati musibah dan cobaan, namun jangan sekali-kali berdalih dengan
takdir dalam hal perbuatan dosa dan kesalahan. Setiap manusia tidak boleh
memasrahkan diri kepada takdir tanpa melakukan usaha apa pun, karena hal ini
akan menyelisihi sunnatullah. Oleh karena itu berusahalah semampunya, kemudian
bertawakkallah.
Sebagaimana disebutkan dalam
firman-Nya,
ูุชููู
ุนูู ุงููู ۚ ุฅูู ูู ุงูุณู
ูุน ุงูุนููู
“Dan bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Anfaal: 61)
ูู
ู
ูุชู ูู ุนูู ุงููู ููู ุญุณุจู
“Barang siapa bertawakkal kepada
Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (Qs. Ath-Thalaq: 3).
Dan jika kita mendapatkan musibah
atau cobaan, janganlah berputus asa dari rahmat Allah dan
janganlah bersungut-sungut, tetapi bersabarlah. Karena sabar adalah
perisai seorang mukmin yang dia bersaudara kandung dengan kemenangan. Ingatlah
bahwa musibah atau cobaan yang menimpa kita hanyalah musibah kecil, karena
musibah dan cobaan terbesar adalah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya,
ุฅุฐุง
ุฃุตุงุจ ุฃุญุฏูู
ู
ุตูุจุฉ ูููุฐูุฑ ู
ุตูุจุฉ ุจู, ูุฅููุง ู
ู ุฃุนุธู
ุงูู
ุตุงุฆุจ
“Jika salah seorang diantara
kalian tertimpa musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku, sungguh ia
merupakan musibah yang paling besar.”
(Shahih li ghairih, riwayat Ibnu
Sa’ad dalam Ath-Thabaqat (II/375), Ad-Darimi (I/40).
Apabila hati kita telah yakin dengan
setiap ketentuan Allah, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, dan tidak
akan ada kegundahan maupun kegelisahan yang muncul dalam diri kita, sehingga
kita akan lebih semangat lagi dalam melakukan segala urusan tanpa merasa
khawatir mengenai apa yang akan terjadi kemudian. Karena kita akan menggenggam
tawakkal sebagai perbekalan ketika menjalani urusan dan kita akan menghunus
kesabaran kala ujian datang menghadang.
Jadi, jangan pernah berhenti berdo’a
dan berusaha. Seburuk apa pun kondisi saat ini, semuanya masih bisa berubah.
Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih bisa berubah. Optimis
selalu Anda bisa mengubah takdir Anda menjadi lebih baik.
Apa pula peran manusia dalam
melakukan pilihan takdir ?. Usaha !. Usaha manusiakah ? atau takdir
manusia untuk berusaha !?. Ataukah menyerah ?. Dan menyerah,
berputus asa pun tidak lepas dari takdir Illahi !.
